Fatamorgana
Hentikan sebentar langkahmu,
Menepilah dan tak usah menjauh
Benarkan saja ragumu.
Tinggalkan sejenak egohmu dengan sadar,
Pikirmu terlalu jauh dengan sadar yang kian pudar.
Gusarmu perlu merenung,
Lelahmu juga harus mengenang.
Bahagiamu tak usah dipaksakan sebelum pilu,
Luka biarlah disini hingga membiru,
Bersama akan indah setelah kehilangan,
Dan lalu hanya sejenak bayang akan sedikit kenangan.
Jika hari ini adalah sedikit Doa-mu di masa lalu,
Aminkan renungmu, dan tersenyumlah karenamu.
Menepilah dan tak usah menjauh
Benarkan saja ragumu.
Tinggalkan sejenak egohmu dengan sadar,
Pikirmu terlalu jauh dengan sadar yang kian pudar.
Gusarmu perlu merenung,
Lelahmu juga harus mengenang.
Bahagiamu tak usah dipaksakan sebelum pilu,
Luka biarlah disini hingga membiru,
Bersama akan indah setelah kehilangan,
Dan lalu hanya sejenak bayang akan sedikit kenangan.
Jika hari ini adalah sedikit Doa-mu di masa lalu,
Aminkan renungmu, dan tersenyumlah karenamu.
Seperti biasanya,
Yang bukan siapa-siapa selalu tau segalanya.
Sadarlah bahwa satir hanya sebatas kata-kata,
Yang nyata, "tak semua air berakhir di muara".
Benar dan salahmu hanya sebatas pengakuan,
Hiduplah atas pilihan dan kenyataan
Sudahi ragumu, tinggalkan kenangan, dan lukislah kenyataan.
Jika bayangmu adalah mimpi indah, jejakmu kan menjadi kenangan yang mengukir kehidupan.
Jagoan tak harus di jalanan,
Kebanggan tak selalu jadi panutan.
Yang bukan siapa-siapa selalu tau segalanya.
Sadarlah bahwa satir hanya sebatas kata-kata,
Yang nyata, "tak semua air berakhir di muara".
Benar dan salahmu hanya sebatas pengakuan,
Hiduplah atas pilihan dan kenyataan
Sudahi ragumu, tinggalkan kenangan, dan lukislah kenyataan.
Jika bayangmu adalah mimpi indah, jejakmu kan menjadi kenangan yang mengukir kehidupan.
Jagoan tak harus di jalanan,
Kebanggan tak selalu jadi panutan.
Komentar
Posting Komentar